Menyelamatkan Masa Depan Sepak Bola di Tubuh PSN
Sepak bola usia muda bukan hanya sebatas mengejar trofi atau mempertahankan gelar, melainkan sebuah investasi jangka panjang dalam membina karakter dan regenerasi atlet.
Dinamika yang dialami PSN dalam
rentang waktu 2022 hingga 2026 memberikan gambaran nyata betapa krusialnya tata
kelola organisasi yang profesional, profesionalisme tim kepelatihan, dan
pemisahan yang tegas dari intervensi politik.
Jejak perjalanan PSN pada tahun
2022 memperlihatkan formula ideal tentang sebuah keberhasilan. Persiapan matang
selama enam bulan, pemusatan latihan berkedisiplinan tinggi di asrama, serta
dukungan iklim internal yang kondusif terbukti mampu mengantarkan tim meraih
gelar juara di Piala Soeratin meski sempat terseok di awal kompetisi. Kejayaan
tersebut bahkan berhasil dipertahankan pada 2023 berkat pondasi tim yang telah
terbentuk dengan baik.
Namun, penurunan performa pada
tahun 2024 menjadi alarm keras bagi pembinaan sepak bola daerah. Pemangkasan
masa persiapan menjadi hanya satu bulan, lemahnya manajemen emosi, serta
masuknya kepentingan politik berujung fatal yakni kekalahan di Piala Soeratin
Kupang dan sanksi berat dari Asprov NTT hingga 2028. Ketiadaan evaluasi pasca kekalahan
mempertegas masalah mendasar dalam budaya akuntabilitas organisasi.
Upaya bangkit pada 2026 melalui
inisiatif pembentukan tim bayangan dan pengurusan pemutihan sanksi patut
diapresiasi. Meski demikian, fakta di lapangan menunjukkan bahwa permasalahan
sistemik masih membayangi. Penunjukan manajemen dan jajaran pelatih yang kental
dengan unsur nepotisme serta intervensi kekuasaan hanya melahirkan konflik
internal, resistensi pemain, dan memecah fokus tim. Ketika rivalitas antarklub
lokal dibawa ke dalam skuad daerah, esensi pembinaan profesional jelas telah
tercederai.
Dalam rangka mengembalikan kejayaan dan fungsi hakiki pembinaan sepak bola muda dalam tubuh PSN, maka perubahan fundamental harus segera dilakukan melalui lima langkah strategis antara lain :
- Tim kepelatihan dan manajemen wajib ditunjuk minimal tiga bulan sebelum kompetisi berdasarkan kapasitas profesional, serta sepenuhnya dibebaskan dari intervensi politik maupun nepotisme.
- Penyelenggaraan Liga Pelajar harus dikelola secara transparan oleh federasi resmi (Askab) agar kembali mendapatkan kepercayaan penuh dari pihak sekolah (MKKS).
- Pemerintah daerah harus menjamin ketersediaan akses latihan di stadion secara gratis bagi tim kelompok umur.
- Alokasi pendanaan harus jelas dan dapat dipertanggungjawabkan sejak awal masa persiapan.
- Pemenuhan peralatan dan perlengkapan pertandingan harus ditanggung penuh oleh manajemen atau pemerintah, tanpa lagi bergantung pada fasilitas pinjaman milik sekolah.
Pengembangan atlet muda
membutuhkan ekosistem yang sehat. Jika tata kelola sepak bola masih dicampuri
oleh kepentingan politik dan egosektoral, maka regenerasi talenta muda hanya
akan terus menjadi korban.

Komentar
Posting Komentar