Cara Citra Bakti Ngada Merawat Marwah Sepak Bola NTT.


Jika Anda sempat datang ke Maumere atau menonton via YouTube di akun Ledikom pertandingan turnamen Soeratin Cup Zona NTT 2026, ada satu hal yang langsung terasa beda saat melihat Citra Bakti Ngada (CBN) U-17 bertanding. 

Di lapangan, anak-anak muda ini tidak seperti tim yang baru berkumpul sebulan atau dua bulan. Mereka bermain sangat kompak, operan bolanya mengalir lancar, dan mereka seperti sudah saling tahu ke mana temannya akan berlari tanpa perlu berteriak.

Orang bola biasa menyebutnya chemistry. Dan chemistry yang hebat tidak bisa dibeli instan di bursa transfer. Ia harus dirawat, ditumbuhkan, dan dilewati lewat proses yang panjang.

Hemat saya, rahasia di balik permainan apik CBN U-17 ini sangat sederhana namun mendalam, yaitu mereka adalah teman sekelas, teman seasrama, dan sahabat yang tumbuh bersama.

Melalui obrolan Minggu (2/8) sore dengan Coach Tan Siko, sang pelatih, tabir itu terungkap. Skuad utama tim ini ternyata didominasi oleh delapan anak asli binaan Citra Bakti sendiri. 

Nama-nama seperti Dovan Nonga dan Ertus Lami adalah contohnya. Mereka sudah dididik oleh Coach Tan sejak masih berseragam SMP hingga kini di bangku SMA Citra Bakti. Ditambah lagi ada sang kapten Albert, bek kiri Gian, Aldo Niba sang penjaga gawang, Ando Fono yang menjadi mesin gol tim, serta tambahan satu nama penting di lini belakang yaitu Tyo Due dari SMAS Katolik Thomas Aquino yang mengisi pos bek kanan. Mereka semua belajar di sekolah yang sama.

Memang ada beberapa pemain tambahan dari luar yang masuk lewat seleksi ketat, seperti Bil Pajo, Ergis, Jois, Savi, dan Ius Kapu untuk melengkapi strategi tim. Namun, fondasi utamanya tetaplah anak-anak dari rumah besar Citra Bakti yang sudah paham luar dalam karakter satu sama lain.

Tahun 2026 ini tampaknya menjadi tahun pembuktian bagi visi besar Pak Fridus Muga selaku pemilik Citra Bakti. Beliau memilih jalan sunyi yang jarang diambil klub-klub lain, yakni kembali ke akar rumput berbasis sekolah. Tidak tanggung-tanggung, dari kelompok umur U-13, U-15 yang kemarin bertanding di Kupang, hingga U-17 yang kini di Maumere, semuanya mulai mengandalkan anak-anak didik dari sekolah Citra Bakti sendiri.

Tentu jalan ini tidak mudah. Coach Tan Siko sempat bercerita bahwa persiapan mereka di Malanuza hanya sekitar satu bulan. Itu pun sering terganggu oleh cuaca hujan yang tidak menentu. Tapi di situlah letak keajaibannya. Ketika tim lain sibuk menyatukan ego pemain-pemain bintang yang baru kenal, anak-anak CBN sudah punya modal dasar yang kuat. Keterbatasan waktu dan kendala cuaca di Malanuza runtuh oleh rasa kebersamaan yang sudah mereka pupuk bertahun-tahun di ruang kelas dan asrama.

Apa yang dilakukan oleh Citra Bakti Ngada adalah sebuah tamparan halus bagi lanskap sepak bola kita saat ini yang sering kali menuntut prestasi instan. Mereka mengingatkan kita semua bahwa sepak bola bukan cuma soal menang atau kalah dalam 90 menit di lapangan. Sepak bola adalah tentang proses, tentang pembinaan, dan tentang investasi manusia.

Dari dingin dan hujannya Malanuza, anak-anak muda ini sedang mengirimkan pesan hangat ke seluruh NTT bahwa sepak bola yang dirawat dengan hati, konsistensi, dan kebersamaan, selalu punya cara sendiri untuk tampil indah dan digdaya.

Foto : MerLind Titu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Kelam Semifinal Pesik Kuningan Kontra PSN Ngada

PSN Ngada Menuju Babak Delapan Besar

Catatan Sepak Bola Opa Gius untuk PSN dan CBN