Gempa Flores dan Refleksi Komunitas di Mojokerto dan Jombang
Di tengah dinamika kehidupan perantauan, menjaga ikatan persaudaraan dan solidaritas menjadi sebuah kebutuhan mendesak. Hal tersebut tercermin dalam pertemuan hangat komunitas masyarakat Flores yang berdomisili di Mojokerto dan Jombang, yang digelar pada Minggu (16/8).
Pertemuan yang berlangsung di kediaman Bapak Fabianus Tapung, di Curah Malang, Sumobito, Jombang ini, tidak hanya menjadi ajang temu kangen, melainkan juga wadah untuk menyusun langkah strategis bagi masa depan bersama.
Dalam suasana kekeluargaan yang kental, dua keputusan penting dihasilkan dari pertemuan tersebut. Keputusan pertama adalah pembentukan panitia untuk perayaan Tahun Baru bersama yang akan dilaksanakan pada Minggu (3/1/2027) mendatang. Rencana ini bukan sekadar agenda pesta, melainkan komitmen untuk merayakan awal tahun dalam kebersamaan, mempererat tali persaudaraan, serta menegaskan identitas sebagai satu keluarga besar di tanah rantau.
Namun, di balik semangat menyongsong harapan tersebut, pertemuan ini juga menunjukkan kedalaman rasa empati komunitas terhadap duka yang menimpa sesama akibat bencana gempa di Flores.
Keputusan kedua yang disepakati adalah mempersembahkan ujud dalam Ekaristi khusus pada Senin (17/8) sore di Gereja Katolik Paroki St. Yosef Mojokerto. Misa ini ditujukan bagi keselamatan arwah para korban serta untuk memohon ketabahan bagi anggota keluarga yang ditinggalkan.
Solidaritas ini melampaui batas-batas wilayah dan menegaskan bahwa duka satu anggota komunitas adalah duka bagi seluruh keluarga besar Flores Mojokerto dan Jombang.
Kedua keputusan ini merupakan cerminan dari semangat gotong royong dan nilai suka duka yang menjadi luhur budaya Flores.
Peristiwa ini menunjukkan bagaimana komunitas perantau dapat berfungsi sebagai pilar dukungan emosional dan spiritual bagi para anggotanya, siap bersama-sama merayakan kemenangan hidup maupun menghadapi tantangan bersama di mana pun berada.


Komentar
Posting Komentar