Postingan

Jangan Paksa Anak Jadi Hebat, Jika Orang Tua Belum Layak Jadi Teladan

Gambar
Pengukuhan Forum Anak Daerah (FAD) Kabupaten Ngada periode 2026-2027 di Bajawa baru-baru ini menyisakan sebuah tanda tanya besar di benak penulis, “Apakah Kabupaten Layak Anak (KLA) adalah sebuah misi tulus, atau sekadar kosmetik birokrasi?” Di atas kertas, visi Bupati Raymundus Bena menempatkan anak sebagai pelopor pembangunan adalah langkah revolusioner. Namun, di lapangan, narasi indah ini sering kali membentur tembok kokoh bernama realitas sosial. Kita tidak bisa menutup mata bahwa di balik label ramah anak, masih banyak dapur-dapur rumah dan pelataran rumah adat kita yang menjadi saksi bisu pengabaian terhadap martabat anak. Sangat ironis ketika kita mendorong anak menjadi "Pelapor", sementara sistem pendukung terkecil mereka di dalam keluarga masih menormalisasi kekerasan. Bagaimana mungkin seorang anak memiliki keberanian untuk bersuara jika di rumahnya sendiri ia dibesarkan dengan makian "bodoh" atau hantaman fisik sebagai pengganti dialog? Selama oran...

Citra Bakti Ngada, Memutus Rantai Kegelisahan Antara Ijazah dan Sepatu Bola

Gambar
Selama puluhan tahun, Kabupaten Ngada di Nusa Tenggara Timur (NTT) dikenal sebagai "Brasil-nya Indonesia". Bakat-bakat alam tumbuh subur di setiap jengkal tanahnya. Namun, ada satu mata rantai yang sering terputus yakni banyak talenta hebat harus memilih antara pendidikan atau lapangan hijau. Tahun ini, stigma itu dihancurkan. STKIP Citra Bakti Ngada berdiri tegak, membawa nama Malanuza ke kasta nasional melalui kompetisi Liga 4 musim 2025/2026 . Masuknya Citra Bakti dalam jajaran 14 klub perguruan tinggi elit di Indonesia bukan sekadar gaya-gayaan. Ini adalah sebuah pernyataan politik olahraga yang tegas bahwa kampus bukan lagi penonton, melainkan mesin penggerak prestasi. Melihat logo Citra Bakti Ngada bersanding dengan kampus raksasa seperti UNESA Surabaya, UNIMED Medan, Universitas Sriwijaya, Universitas Trisaksi, dll di tabel peserta Liga 4 memunculkan rasa bangga sekaligus harapan. Bagi masyarakat Malanuza, ini adalah pembuktian bahwa kualitas intelektual dan ketan...

Racun Uang Sebagai Pembunuh Mentalitas dalam Sepak Bola Usia Dini

Gambar
Fenomena hadiah uang tunai (prize money) dalam turnamen sepak bola anak kembali menyeruak, salah satunya melalui gelaran Watutura Cup II dengan total hadiah fantastis mencapai Rp50 juta. Di permukaan, angka ini tampak sebagai bentuk apresiasi bagi prestasi anak. Namun, jika kita membedah anatomi pembinaan pemain muda secara mendalam, pemberian uang tunai justru merupakan langkah mundur yang mencederai filosofi dasar sepak bola usia dini.   Dunia psikologi mengenal dua jenis dorongan intrinsik dan ekstrinsik . Anak-anak bermain sepak bola secara alamiah untuk mencari kesenangan, mencari teman, dan belajar. Inilah motivasi intrinsik yang menjadi bahan bakar utama konsistensi mereka di lapangan. Ketika panitia menaruh tumpukan uang di akhir turnamen, fokus anak dipaksa bergeser dari penguasaan keterampilan menjadi   pemburu nominal. Hadiah uang adalah motivasi ekstrinsik yang bersifat semu. Begitu hadiah tersebut hilang atau tidak lagi menarik, minat anak terhadap sepak b...

Loncatan Literasi NTT, Kala Ketulusan Bertemu Data dan Tantangan AI

Gambar
Selama bertahun-tahun, narasi tentang literasi di Nusa Tenggara Timur (NTT) sering kali dibalut dengan nada pesimis. Tantangan geografis, keterbatasan akses, hingga minimnya infrastruktur pendidikan seolah menjadi tembok tebal yang mustahil ditembus. Namun, data BPS Februari 2026 membawa kabar yang menggetarkan yakni NTT kini memuncaki indeks minat baca nasional dengan skor 62 poin. Bagi mereka yang hanya melihat angka, ini mungkin sekadar statistik. Namun, bagi para penggerak yang telah berjibaku sejak puluhan tahun silam termasuk melalui inisiatif seperti Gerakan Katakan dengan Buku (GKdB) yang konsisten mengirimkan ribuan buku sejak 2006 data ini adalah bukti nyata bahwa literasi bukan soal kemewahan fasilitas, melainkan soal militansi dan konsistensi Keberhasilan NTT berada di atas provinsi-provinsi lain di Indonesia menunjukkan bahwa ekosistem literasi berbasis komunitas bekerja dengan efektif. Ketika buku-buku fisik dikirimkan ke pelosok, ke tangan anak-anak yang haus akan ilmu, ...

Pulang ke Sa’o: Reorientasi Literasi dari "Menara Gading" ke Jantung Adat Ngada

Gambar
Di ufuk cakrawala tanah Ngada, di bawah naungan Gunung Inerie yang kokoh, berdiri bangunan-bangunan ikonik yang melambangkan harga diri sebuah klan yaitu Sa’o . Bagi masyarakat Ngada, Sa’o bukan sekadar susunan kayu bermutu atau atap ijuk yang menantang langit. Ia adalah rahim identitas, pusat perlindungan, dan tempat di mana denyut kehidupan bermula. Di dalam Sa’o, sejarah lisan diwariskan, hukum adat diputuskan, dan kebersamaan dirayakan dalam aroma kopi yang mengepul. Namun, sebuah tantangan besar kini membayangi eksistensi ruang sakral ini. Di tengah derasnya arus modernitas dan banjir informasi digital, mampukah Sa’o bertransformasi menjadi lumbung ilmu tanpa harus kehilangan jiwanya? Bisakah rumah adat yang kuno ini menjadi episentrum literasi bagi generasi yang mulai gagap membaca akarnya sendiri? Selama dekade terakhir, literasi sering kali terjebak dalam sekat-sekat institusional yang dingin. Gedung perpustakaan konvensional sering kali terasa eksklusif, kaku, dan menginti...

Sepak Bola Adalah Jembatan

Gambar
  (Refleksi Menuju Putaran Nasional PSN Ngada)  Rabu (18/3) sore, sekitar pukul 15.19 WIB, sebuah obrolan hangat terjalin antara saya dan Coach Kletus Marselinus Gabhe. Suasana akrab menyelimuti diskusi kami, seolah menyambung kembali tali silaturahmi yang beberapa tahun lalu sempat terjalin melalui ruang diskusi virtual Zoom Meeting. Meski waktu telah berlalu, tema pembicaraan kami tetap setia pada satu poros: Sepak Bola Ngada. Kali ini, fokus kami tertuju pada persiapan serius PSN Ngada menyongsong kompetisi Liga 4 Putaran Nasional yang dijadwalkan bergulir pada April hingga Mei mendatang. Ada satu fakta menarik yang mencuat dalam obrolan kami. Skuad PSN Ngada kali ini dipastikan tidak akan tampil sekomplit saat mereka berlaga di zona NTT di Ende beberapa waktu lalu. Beberapa pilar utama tidak lagi menghiasi daftar susunan pemain. Namun, penyebab di balik ketidakhadiran mereka bukanlah masalah cedera atau sengketa kontrak, melainkan sebuah pilihan hidup yang jauh lebih menda...

Sejak Kapan Istilah Katolik Digunakan?

Gambar
  Istilah ‘katolik‘ merupakan istilah yang sudah ada sejak abad awal, yaitu sejak zaman Santo Polycarpus (murid Rasul Yohanes) untuk menggambarkan iman Kristiani, ((Disarikan dari New Catholic Encyclopedia, Buku ke-3 (The Catholic University of America, Washington, DC, copyright 1967, reprinted 1981), hal. 261)) bahkan pada jaman para rasul, sebagaimana dicatat dalam Kitab Suci. Kis 9:31 menuliskan asal mula kata Gereja Katolik (katholikos) yang berasal dari kata “Ekklesia Katha Holos“. Ayatnya berbunyi, “Selama beberapa waktu jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus.” (Kis 9:31). Di sini kata “Katha holos atau katholikos; dalam bahasa Indonesia adalah jemaat/ umat Seluruh/ Universal atau Gereja Katolik, sehingga kalau ingin diterjemahkan secara konsisten, maka Kis 9:31, bunyinya adalah, “Selama beberapa waktu Gereja Katoli...