Pulang ke Sa’o: Reorientasi Literasi dari "Menara Gading" ke Jantung Adat Ngada
Di ufuk cakrawala tanah Ngada, di bawah naungan Gunung Inerie yang kokoh, berdiri bangunan-bangunan ikonik yang melambangkan harga diri sebuah klan yaitu Sa’o . Bagi masyarakat Ngada, Sa’o bukan sekadar susunan kayu bermutu atau atap ijuk yang menantang langit. Ia adalah rahim identitas, pusat perlindungan, dan tempat di mana denyut kehidupan bermula. Di dalam Sa’o, sejarah lisan diwariskan, hukum adat diputuskan, dan kebersamaan dirayakan dalam aroma kopi yang mengepul. Namun, sebuah tantangan besar kini membayangi eksistensi ruang sakral ini. Di tengah derasnya arus modernitas dan banjir informasi digital, mampukah Sa’o bertransformasi menjadi lumbung ilmu tanpa harus kehilangan jiwanya? Bisakah rumah adat yang kuno ini menjadi episentrum literasi bagi generasi yang mulai gagap membaca akarnya sendiri? Selama dekade terakhir, literasi sering kali terjebak dalam sekat-sekat institusional yang dingin. Gedung perpustakaan konvensional sering kali terasa eksklusif, kaku, dan menginti...