Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2026

Menyeimbangkan Kapasitas Intelektual dan Ketahanan Spiritual

Gambar
Senin (25/5) siang, tepat pukul 12.00, sebuah ajakan yang tak lazim datang dari putra saya, Diego Lina. "Pak, mari kita berdoa Rosario lima peristiwa gembira," ajaknya tenang. Sebagai seorang ayah, saya segera bertanya perihal ujud doa tersebut. Dengan nada yang mantap namun penuh kerendahan hati, ia menjawab, "Agar saya bisa lulus SNBT." Di era yang serba cepat ini, dunia pendidikan kita sering kali terjebak dalam obsesi angka. Peringkat, nilai ujian, dan statistik kelulusan kerap dijadikan satu-satunya tolok ukur keberhasilan. Namun, di balik keberhasilan Diego menembus ketatnya Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026 di Program Studi PJKR, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Surabaya (Unesa), saya menemukan pelajaran yang jauh lebih mendalam yakni kesuksesan sejati adalah titik temu antara disiplin intelektual dan keteguhan iman. Bagi Diego, persiapan menuju bangku kuliah bukan sekadar ritual musiman. Ia memahami bahwa kompetisi membutuhkan strate...

Budaya sebagai Penuntun, Jalan sebagai Penyambung

Gambar
Dalam dinamika politik modern, seringkali kita melihat jurang pemisah yang lebar antara elit pemerintahan dengan realitas masyarakat akar rumput. Namun, potret hangat mama saya, Ibu Paulina Bhoki, yang diapit oleh Bupati Ngada Raymundus Bena dan Wakil Bupati Bernadinus Dhey Ngebu di rumah adat Sa'o Gebhawea, memberikan perspektif yang menyegarkan. Momen saat acara Ka Sa'o di kampung Woeloma ini bukan sekadar aktivitas protokoler, melainkan sebuah pernyataan sikap tentang apa artinya menjadi pemimpin yang memanusiakan manusia di tanah Ngada. Bagi saya, kehadiran beliau berdua adalah manifestasi nyata dari gaya kepemimpinan yang merangkul. Salah satu hal yang paling berkesan dari sosok Pak Raymundus dan Pak Bernadinus adalah gaya komunikasi mereka yang begitu luwes dan membumi. Mereka mampu menanggalkan topeng protokoler yang kaku, menggantinya dengan obrolan-obrolan hangat yang diselingi canda tawa segar saat berinteraksi dengan warga. Mereka tidak datang sebagai sosok yang haru...

Menghidupkan Jiwa Seni Siswa di Ngada Melalui GSMS

Gambar
Pendidikan sejati bukanlah sekadar ajang transfer ilmu pengetahuan di dalam ruang kelas yang kaku. Ia adalah upaya holistik untuk memperhalus budi pekerti dan memperluas cakrawala berpikir generasi muda. Langkah strategis Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ngada yang terpilih sebagai mitra dalam Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) 2026 menjadi bukti nyata bahwa transformasi pendidikan sedang bergerak ke arah yang lebih manusiawi. Kehadiran seniman memberikan warna baru bagi ekosistem belajar. Sinergisitas ini menjadi krusial bagi masa depan pendidikan kita melalui beberapa poin fundamental yakni Pertama, Kurikulum formal sering kali menitikberatkan pada aspek kognitif. Di sinilah seni hadir sebagai penyeimbang. Melalui seni, siswa belajar tentang empati dan kesabaran. Di Ngada, hal ini mewujud nyata dalam seni tenun (Ikat). Menenun bukan sekadar menyilangkan benang. Menenun adalah latihan ketelitian dan keteguhan hati. Siswa diajak memahami bahwa setiap motif memiliki naras...