Postingan

Membangun Fondasi Daya Tahan, Kekuatan, dan Kecepatan Pada Usia Grassroots

Gambar
Oleh : Imam Syafii Salah satu filosofi sepak bola Grassroots (6-12 tahun) adalah ‘let the kids be kids’ . Maksud dari kalimat tersebut,  mari perlakukan anak sebagai anak. Dalam pengertian yang lebih luas bahwa jangan anak diperlakukan seperti orang dewasa dalam konteks latihannya. Karakteristik fisiologis maupun mentalnya sangat berbeda, sehingga membutuhkan perlakukan yang berbeda pula dalam memenuhi kebutuhan latihannya. Fase Grassroots melajutkan fase sebelumnya, yakni Kids Soccer (5-6 tahun).  Bila pada fase Kids Soccer anak sudah merasa ada ketertarikan dengan sepak bola, maka tahap selanjutnya tinggal menjaganya. Kesan menyenangkan terhadap sepak bola sebagai dampak perlakuan pelatih sebelumnya,  diharapkan tetap terjaga agar anak bisa mendapat kesan serupa dalam proses belajar selanjutnya. Sementara itu komponen kondisi fisik yang perlu dikembangkan pada fase Grassroot s selain koordinasi, konsentrasi dan kelentukan adalah daya tahan ( endurance ), kecepatan ( ...

Membenah Fisik Pemain Sejak Usia Dini

Gambar
 (Bagian 2)  Oleh : Imam Syafii, Dosen Unesa Surabaya Ketika kualitas kondisi fisik pemain di level senior kurang bagus, baik di Tim Nasional maupun di Klub yang berkompetisi di kasta tertinggi bukan berarti masa pemusatan latihan dan program latihannya kurang bagus.  Keterkaitan dengan fase pembinaan yang mereka jalani sejak usia dini memiliki korelasi yang sangat signifikan. Program latihan yang mereka dapatkan, keterlibatan dalam proses latihan dan bermain pada kompetisi serta asupan gizi dan pola hidup menjadi faktor penentu terbentuknya kondisi fisik yang baik bagi seorang pesepakbola. Dalam Youth Football , buku panduan pembinaan pemain usia muda yang diterbitkan FIFA disebutkan bahwa komponen utama kondisi fisik yang perlu dikembangkan bagi pemain sepak bola meliputi kecepatan ( speed ), daya tahan ( endurance ), kekuatan ( streght ), kelentukan ( suppleness ) dan koordinasi ( coordination ). Komponen dasar ini selanjutnya bisa dikembangan menjadi komponen lainnya ...

Keluhan Pelatih Asing Tentang Kondisi Fisik Pemain Indonesia

Gambar
(Bagian 1) Oleh : Dr. Imam Syafi'i  Empat tahun lalu, Shin Tae-Yong, pelatih Timnas Indonesia pernah mengeluhkan bahwa salah satu persoalan besar pemain Indonesia adalah menurunnya stamina pemain di menit-menit akhir pertandingan. Keluhan serupa juga pernah disampaikan pelatih Timnas sebelumnya, Alfred Riedl, Luis Milla dan Simon McMenemy (sport.detik.com, 9 Januari 2020). Menurut Shin Tae-yong salah satu faktor penyebab adalah kompetisi di Indonesia yang belum memenuhi standar dari sisi masa bermain efektifnya. Di Liga 1 saja, masa efektif bermain pada setiap pertandingan masih pada kisaran 30-35 menit, sedangkan pada kompetisi yang baik, menurut pelatih asal Korea Selatan itu bisa mencapai 60 menit. Masa bermain efektif adalah waktu total permainan selama 2 x 45 menit tanpa terhenti oleh bola mati, adanya pelanggaran, dan bola keluar atau perawatan cidera. Menurunnya tempo permainan diakhir pertandingan seolah menjadi ciri khas permainan sepak bola Indonesia. Asnawi Mangkualam ke...

Praktik Baik Tugas Gereja Menjadi Saksi Kristus (Martyria)

Gambar
 

Prize Money Bagi Anak Usia Dini Dalam Sepak Bola

Gambar
Imam Syafii : Dosen Unesa Surabaya  Pemberian hadiah uang atau prize money pada event sepak bola usia dini sering diperdebatkan. Ada pihak yang tidak sependapat karena terkait dengan perkembangan motivasi anak dikemudian hari. Tetapi ada pihak yang tidak mempermasalahkan karena hadiah tersebut nantinya bisa digunakan bersama untuk kepentingan timnya.  Induk organisasi sepak bola seperti FIFA hingga PSSI memang tidak melarangnya, namun dalam panduan pelaksanaan turnamen usia muda, mereka menyarankan bahwa reward yang diberikan kepada tim tidak dalam bentuk uang tunai. Mereka menyarankan dalam bentuk peralatan latihan atau barang yang bisa memberikan kenangan kepada pemain dalam kurun waktu yang lama, seperti medali, plakat, piagam dan sejenisnya.   Pengalaman penulis mengikuti beberapa turnamen di luar negeri walaupun biaya pendaftarannya relatif lebih mahal dari yang diselenggarakan di Indonesia, belum pernah ada yang memberikan hadiah uang tunai.  Dari sudut pa...

Merancang Kebutuhan Bertanding, Kecerdasan, dan Pengambilan Keputusan Pesepakbola Usia Dini

Gambar
  Imam Syafii, Dosen Universitas Negeri Surabaya  Dalam Grassroots Handbook Asian Football Confederation (AFC) disebutkan bahwa standar kebutuhan bertanding pesepakbola usia dini setiap tahunnya mencapai 25-30 kali. Kelompok usia dini atau yang sering disebut Fase Grassroots menurut Federation International Football Association (FIFA) adalah kelompok anak-anak dengan rentang usia 6 hingga 12 tahun.  Jumlah bertanding yang direkomendasikan FIFA tersebut, sudah seharusnya menjadi rujukan bagi pengelola sepak bola usia dini seperti Sekolah Sepak Bola (SSB), akademi dan sejenisnya. Mereka   harus mampu merancang kebutuhan bertanding siswanya dalam kurun waktu satu tahun secara terencana, bertahap dan berkelanjutan.  Selama ini, cara yang ditempuh pengelola wadah pembinaan usia dini dilakukan dengan dua cara, yakni mengikutserakan pada turnamen atau pertandingan persahabatan.  Di Indonesia, turnamen kelompok usia yang antara 10 hingga 12 tahun hampir setiap...

Bukan Anak Pintar

Gambar
Lima tahun yang lalu tepatnya pada tanggal 14 Juni 2019, ananda Clay Wogo mendapat apresiasi berupa trophy dari SMP Katolik St. Yusuf Mojokerto pada saat akhir tahun pelajaran tepatnya kenaikan kelas dari kelas 7 ke kelas 8. Trophy yang diterima Clay bukan karena juara kelas berupa torehan prestasi akademis atau non akademis terkait pengembangan minat dan bakat. Clay dinobatkan sebagai siswa yang paling rajin dengan ketidakhadiran nol atau selama satu tahun pelajaran 2018/2019 Clay tidak pernah absen atau tidak pernah tidak masuk sekolah. Khitah dari lembaga pendidikan Katolik milik Yayasan Yohanes Gabriel atau Keuskupan Surabaya ini menarik dan cukup anti mainstream mengingat tidak semua sekolah melakukan hal tersebut.   Pantauan penulis, sekolah lebih dominan memberikan apresiasi dalam berbagai bentuk termasuk beasiswa hanya kepada peserta didik yang juara kelas dalam perolehan nilai akademis, lomba pengembangan minat dan bakat, dll. Jarang sekali atau mungkin mustahil kalau...