Feodalisme Gaya Baru yang Menelanjangi Mentalitas Penjilatan "Siap, Kanda"
Setiap kali menghadiri pertemuan komunitas diaspora Flores di Mojokerto dan Jombang, ada satu atmosfer unik yang selalu berhasil dihidupkan. Di sana, ruang dialog tidak pernah terasa kaku, dingin, apalagi mencekam. Diskusi-diskusi berat mengenai dinamika sosial, politik, hingga arah pembangunan daerah asal selalu dikemas dalam balutan canda, tawa, dan humor yang segar. Namun, jangan salah sangka. Di balik riuh tawa dan aroma persaudaraan yang pekat, substansi materi dan bobot argumen tetap menjadi panglima.
Di ruang inilah, kehangatan personal berkelindan dengan ketajaman berpikir. Saya melihat bagaimana figur-figur senior seperti Opa Petrus Due atau Bapak Siprianus mendengarkan pandangan yang lebih muda dengan saksama, sementara Om Vitalis Sion dan Bapak Baldy menimpali dengan kritikan tajam yang diselingi kelakar khas Indonesia Timur. Tidak ada sekat feodal, tidak ada pembungkaman.
Barangkali, justru di situlah letak daya tarik utama komunitas ini dimana hubungan antaranggota yang cair tanpa sekat-sekat hierarki yang artifisial. Di komunitas ini, saya tidak pernah mendengar sapaan “Siap, Kanda” sebuah frasa yang hari ini dalam lanskap organisasi kepemudaan sering kali bergeser makna menjadi simbol kepatuhan buta, senioritas mutlak, dan (maaf) mentalitas penjilat. Yang ada hanyalah percakapan yang setara, ruang bebas untuk saling menguji argumentasi, tanpa sedikit pun kehilangan rasa hormat satu sama lain.
Fenomena egaliter ini menjadi sangat kontras ketika kita menengok dinamika yang berkembang di sebagian lingkungan organisasi atau gerakan mahasiswa tertentu hari ini. Sapaan “kanda”, yang semula lahir sebagai bentuk penghormatan kultural yang luhur kepada senior, dalam praktiknya kini kerap mengalami distorsi. Ia telah dijinakkan menjadi alat langgengnya relasi kuasa yang feodal.
Ada kecenderungan tidak sehat di mana junior seolah-olah dituntut untuk menunjukkan kepatuhan absolut terlebih dahulu sebelum mereka diizinkan mengemukakan pikiran. Kritisisme dibungkam dengan dalih sopan santun yang keliru, dan perbedaan pendapat buru-buru dicap sebagai bentuk pembangkangan atau subversi.
Padahal, esensi dari sebuah organisasi intelektual adalah dialektika, bukan monolog. Penghormatan kepada senior semestinya lahir secara organik dari kualitas visi dan keteladanan yang mereka tunjukkan, bukan dari sikap membungkuk atau sekadar mengiyakan setiap pendapat tanpa daya kritis. Ketika kata "Siap" diucapkan sebelum otak sempat mencerna, di situlah kematian akal sehat dimulai.
Masyarakat Flores hingga Adonara dibesarkan dalam bentang tradisi yang berbeda. Kami tidak belajar menyenangkan senior dengan cara membebek pada otoritas atau menggadaikan integritas berpikir. Cara kami menghormati para senior seperti cara kami menghormati ketokohan Opa Petrus Due atau pandangan Bapak Siprianus demikian juga Om Vitalis dan Om Baldy adalah dengan membaca lebih banyak, berpikir lebih keras, dan bila perlu, mendebat mereka secara argumentatif di ruang pertemuan komunitas.
Karena itulah, dalam interaksi keseharian, kami lebih akrab dengan sapaan om, Eja, Kraeng Tua, Moat, No, Ama, Ina, Mbak, dll atau menyapa langsung nama dengan takzim, yang terasa jauh lebih egaliter. Nilai hormat itu tetap tegak berdiri sebagai pilar komunal, tetapi ia tidak pernah boleh mengeliminasi kebebasan berpikir.
Di dalam ekosistem seperti ini, seorang senior tidak akan merasa kehilangan wibawa atau jatuh harga dirinya hanya karena dibantah oleh yang lebih muda. Sebaliknya, seorang junior tidak perlu merasa terintimidasi untuk bersuara hanya karena perbedaan usia atau posisi struktural. Senioritas dinilai dari ketebalan isi kepala dan kebijaksanaan sikap, bukan dari senioritas kalender.
Tradisi intelektual yang hidup di dalam komunitas kami sangat menjunjung tinggi prinsip kesetaraan. Di sini, kehormatan seseorang tidak diukur dari seberapa sering ia menundukkan kepala dan berkata, “Siap, Kanda,” melainkan dari mutu, basis data, dan logika dari argumentasi yang dibangunnya. Ketika Om Vitalis Sion atau Bapak Baldy melontarkan otokritik yang memantik perdebatan, semua orang menyambutnya sebagai vitamin bagi akal sehat, bukan sebagai ancaman bagi harmoni.
Dari setiap cangkir kopi, sloki moke yang menghangatkan suasana, dan tawa yang pecah di setiap pertemuan komunitas Flores di perantauan ini, saya selalu membawa pulang sebuah keyakinan yang kian menebal bahwa ruang-ruang intelektual yang egaliter seperti inilah yang hari ini sangat dibutuhkan oleh bangsa ini.
Kita sedang mengalami krisis ruang publik yang sehat, di mana diskusi sering kali terjebak di antara dua kutub ekstrem yakni kepatuhan buta pada otoritas atau caci maki tanpa dasar di media sosial. Kita merindukan sebuah ruang komunal yang memuliakan ilmu pengetahuan, merawat persahabatan tanpa kepalsuan, menghargai perbedaan isi kepala, dan dengan tegas mengajarkan kepada generasi muda bahwa otoritas jabatan atau senioritas tidak akan pernah boleh mengalahkan kekuatan argumentasi.
Sudah saatnya kita menakar ulang relasi kuasa dalam organisasi kita. Mari sudahi budaya "Siap, Kanda" yang mengerdilkan akal, dan mulailah membangun tradisi "Siap Berpikir" demi masa depan intelektual bangsa yang lebih sehat.

Komentar
Posting Komentar