Caludius, Menempa Diri dalam Sunyi dan Tumbuh dalam Melodi


Melihat putra sulung kami, Claudius Guido, tumbuh dan melangkah sejauh ini selalu memicu gelombang haru yang mendalam di hati kami sebagai orang tua. Jumat (10/7) sore sekitar jam 18.07 WIB ia mengirim pesan via WA bahwa dirinya lolos seleksi sebagai Mentor dalam Gerigi X UKM Expo ITS 2026. Sebuah peran yang menuntut kecakapan berbicara, memandu, dan memimpin ratusan mahasiswa baru. Namun, bagi kami yang menemaninya sejak awal, pencapaian ini bukan sekadar tentang kelulusan seleksi kampus, melainkan sebuah lompatan besar dari sebuah perjalanan panjang yang penuh keajaiban.

Banyak orang melihat Claudius hari ini sebagai mahasiswa Teknik Kimia yang siap berdiri di depan publik untuk mengayomi sesamanya. Namun, ingatan saya justru mundur jauh ke belakang, ke masa-masa di mana tantangan terbesar kami adalah komunikasi. Sampai menginjak kelas 3 Sekolah Dasar (SD), Claudius belum lancar berbicara. Di masa-masa awal pertumbuhannya itu, untaian kata yang keluar darinya adalah perjuangan tersendiri. Namun, di tengah keterbatasan bicara tersebut, Tuhan memberikan jalan lain bagi jiwanya untuk bertumbuh yaitu Claudius jatuh cinta pada buku.

Di saat lisan belum mampu merangkai kata dengan lancar, lembaran-lembaran bukulah yang menjadi sahabat setianya. Lewat kebiasaan membaca yang kuat, ia menimbun ribuan kosakata, menyerap pengetahuan, dan menata struktur berpikirnya di dalam keheningan. Tidak hanya lewat literasi, Tuhan juga menuntun jemarinya menemukan bahasa universal lain yang luar biasa, yaitu musik. Claudius tumbuh dengan bakat bermain organ, yang kemudian ia persembahkan untuk melayani sebagai organis Gereja, serta mengasah olah suaranya melalui paduan suara di kampusnya. Lewat buku dan indahnya harmoni musik, ia belajar menyelaraskan rasa, kepekaan, dan kedisiplinan diri.

Mengingat fase itu, melihatnya kini berani mengambil tanggung jawab yang jauh lebih besar sebagai seorang mentor kampus terasa seperti sebuah mukjizat yang nyata. Anak yang dulu lebih banyak diam bersama buku dan instrumen musiknya, kini dipercaya untuk menjadi pengarah, pelatih, dan penyampai nilai-nilai luhur bagi generasi baru di salah satu kampus terbaik negeri ini. Keterbatasan masa kecil tidak pernah menjadi tembok pembatas, melainkan fondasi yang membentuk ketangguhan karakternya hari ini, di mana isi kepala yang matang dari hasil membaca serta kepekaan rasa dari musik kini mewujud dalam kepemimpinan yang nyata.

Ini adalah bukti otentik bahwa ruang perkuliahan tidak membuatnya terkungkung dalam menara gading akademis yang kaku. Alih-alih hanya bersembunyi di balik buku teks atau laboratorium sains, tantangan ini justru mendorongnya untuk keluar, berdampak, dan melayani sesama sejak dini.

Selamat berproses dan menunaikan tugas mulia ini, Claudius. Jaga amanah ini dengan dedikasi terbaikmu. Jadilah mentor yang tidak hanya menginspirasi dengan kata-kata yang kini telah kau kuasai dengan baik berkat buku-buku yang kau baca dan harmoni musik yang kau mainkan tetapi yang paling utama, menginspirasilah dengan tindakan nyata. Mengayomilah dengan hati yang tulus, dan senantiasa bawalah energi positif bagi almamater tercinta.

Perjalananmu dari seorang anak yang sunyi, yang menempa diri lewat membaca dan alunan organ, hingga menjadi seorang pegiat di kampus adalah pengingat bagi kita kami bahwa pada akhirnya, belajar yang paling tinggi bukanlah tentang seberapa banyak ilmu yang kita serap untuk diri sendiri, melainkan tentang bagaimana kita belajar memberi arti dan manfaat bagi orang lain.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Kelam Semifinal Pesik Kuningan Kontra PSN Ngada

PSN Ngada Menuju Babak Delapan Besar

Catatan Sepak Bola Opa Gius untuk PSN dan CBN