Perlukah Sakramen Pengakuan Dosa ?

 

Pasca minggu ketiga masa Adven atau yang dikenal dengan Minggu Gaudete, sukacita umat Katolik sejagat intensitasnya semakin naik. Pasalnya, umat akan menyiapkan diri untuk lebih serius menyiapkan diri untuk menyambut Natal melalui beberpa rangkaian kegiatan dan salah satunya adalah aktivitas pengakuan dosa. Ada pertanyaan menarik yang sering penulis jumpai di berbagai plat form media sosial yakni "Masih perlukah Sakramen Pengakuan Dosa"?
Gereja Katolik memiliki tanda dan sarana keselamatan (Sakramen) di mana seseorang dapat mendapatkan pengampunan dosa dengan menerima sakramen pengakuan dosa dari Imam.

Tapi pernahkah kita berpikir, apakah hal tersebut perlu dilakukan? Bukankah bertobat langsung ke Yesus juga bisa dan bahkan lebih personal dengan Tuhan?

Dalam ajaran Gereja Katolik, sakramen adalah tanda yang kelihatan dan efektif dari rahmat Keselamatan. Artinya, sakramen bukan hanya menunjuk pada keselamatan, tetapi sungguh menghadirkannya.

Sakramen Tobat merupakan tanda keselamatan di mana orang berdosa yang menyesal mengaku dosa kepada imam dan menerima pengampunan dari Allah melalui pelayanan Gereja.

Sakramen ini perlu dilakukan karena ketika manusia melakukan dosa, hal tersebut merusak relasi dengan Allah dan Gereja sehingga perlu dirajut kembali.

Mengapa Melalui Imam?

Allah tidak segan memakai sarana manusia dalam keselamatan, mengapa pengampunan dosa harus dikecualikan?

Yesus secara sadar menyerahkan kuasa pengampunan dosa kepada para rasul (Yohanes 20:22-23) dan menghendaki kita untuk saling mengaku dosa (Yakobus 5:16) terlebih-lebih kepada imam yang merupakan perpanjangan tangan dari para rasul di mana Yesus juga berkata kepada mereka bahwa apa yang mereka ikat dan lepas di bumi akan terjadi di surga (Matius 16:19 dan 18:18).

Mengapa tidak Langsung ke Yesus?

Bertobat langsung kepada Yesus tidak pernah dilarang dan tetap perlu sebagai pertobatan batin yang sejati, tetapi setelah baptis dosa tidak lagi hanya bersifat pribadi karena melukai relasi dengan Allah dan Tubuh Kristus, yaitu Gereja.

Karena itu Yesus menetapkan pengampunan dosa dilayani melalui Gereja dengan memberi kuasa kepada para ras rasul untuk mengampuni dosa (Yoh 20:22-23) sebagai pribadi Kristus (in persona Christi), sehingga pengampunan dosa dihadirkan secara nyata dan memulihkan persekutuan Gereja.

Dilakukan oleh Jemaat Perdana

Pengakuan dosa sebagai laku pertobaton sudah dikenal jemaat perdana, seperti tampak dalam Kisah Para Rasul 19:18 ketika banyak orang mengaku perbuatan sihir mereka dan secara nyata meninggalkan praktik lama dengan membakar kitab-kitab sihir.

Sementara dalam 2 Korintus 2:10 Paulus menunjukkan prinsip in persona Christi, yakni pengampunan dosa yang dilayani oleh pelayan Gereja atas nama Kristus.

Ajaran Bapa Gereja Perdana

Dalam Didache (Ajaran Dua Belas Rasul), salan satu dokumen Kristen paling awal, umat diingatkan untuk lebih dulu membereskan dosa-dosa mereka sebelum berkumpul merayakan Ekaristi, supaya persembahan yang dibawa sungguh lahir dari hati yang berdamai dan tidak tercemar oleh konflik atau kesalahan yang belum diakui.

Sedangkan Tertulianus (abad 2-3) menegaskan exomologesis sebagai pengakuan dosa yang nyata di hadapan Gereja, sering disertai laku pertobatan yang berat sebagai jalan pemulihan rohani.

Landasan Biblis Pengakuan Dosa

  1. Karena itu, akuilah dosa-dosamu satu sama lain dan doakanlah satu sama lain agar kamu disembuhkan. Doa orang yang benar itu ampuh dan efektif (Yakobus 5:16)
  2. Jika kita mengakui dosa-dosa kita, Ia setia dan adil, dan akan mengampuni dosa-dosa kita serta menyucikan kita dari segala ketidakadilan (1 Yohanes 1:9)
  3. Barangsiapa menyembunyikan dosanya, ia tidak akan beruntung, tetapi orang yang mengaku dan meninggalkan dosanya akan mendapat rahmat (Amsal 28:13)
  4. Lalu aku mengakui dosaku kepada-Mu dan tidak menyembunyikan kejahatanku. Aku berkata, “Aku akan mengakui pelanggaran-pelanggaranku kepada Tuhan . ” Dan Engkau mengampuni kesalahan dosaku (Mazmur 32:5)
  5. Apabila seseorang menyadari bahwa dirinya bersalah dalam salah satu hal tersebut, ia harus mengakui dosa yang telah dilakukannya (Imamat 5:5)
  6. Karena itu, bertobatlah dan berpalinglah kepada Allah, supaya dosa-dosamu dihapuskan dan masa-masa penyegaran datang dari Tuhan (Kisah Para Rasul 3:19)

Kesimpulan

Peran Imam dalam sakramen pengakuan dosa bukan untuk mereduksi kuasa Yesus dalam menghapus dosa, melainkan sebagai bentuk pelaksanaan perintah Yesus kepada para rasul. Mereka hadir sebagai pribadi Kristus (in persona Christi) seperti yang diajarkan dalam alkitab.

Bertobat dan mengaku dosa kepada Yesus secara langsung juga tidak salah, tetapi karena dosa, kita juga melukai gereja dan wajib mengaku dosa di hadapan gereja (diwakili imam) sebagaimana yang diajarkan oleh para rasul dan teladan jemaat perdana.

"Pengakuan dosa (exomologesis) adalah disiplin yang merendahkan manusia, tetapi mengangkatnya di hadapan Allah." -Tertulianus (abad 2-3)

SC : IG Gereja Katolik Indonesia

Disadur dari

Didache (The Teaching of the Twelve Apostles). In M. W. Holmes (Ed.), The Apostolic Fathers (3rd ed.). Grand Rapids, MI: Baker Academic.

De paenitentia. In Tertullian: Treatises on penance (R. F. Refoulé, Ed; W. P. Le Saint, Trans.). New York, NY: Newman Press.

Ratzinger, J. (Benedict XVI). (1996). Called to communion: Understanding the Church today. San Francisco, CA: Ignatius Press.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PSN Ngada Menuju Babak Delapan Besar

Catatan Sepak Bola Opa Gius untuk PSN dan CBN

Catatan Opa Gius Untuk PSN Ngada