ETMC dan Mitos yang Terpatahkan
Dua tim yang akhirnya meraih puncak anak tangga persaingan pada partai "grandfinal match" ini adalah PERSENA Nagekeo vs PSN Ngada
Semalam, panggung stadion Marilonga menampilkan pentasan menarik sekaligus bergengsi.
Menarik karena netizen di Ngada dan Nagekeo melabeli pertemuan ini sebagai bentrok antara sang kakak versus sang adik sehingga ada yang nyeletuk, bisakah sang kakak mengalah dan merelakan sang adik menjadi juara?
Disisi lain ini pertarungan bergengsi karena dua finalis ini telah membuktikan diri mampu menyingkirkan para pesaingnya menggapai puncak tangga persaingan untuk meraih mahkota kehormatan yang diimpikan oleh semua kontestan.
Kedua finalis ini mengemban misi masing- masing untuk diraih. PERSENA ingin menoreh sejarah berhasil tampil sebagai juara baru ETMC. Sedangkan PSN juga ingin menoreh sejarah sebagai punggawa sepakbola NTT yang berhasil menjadi juara sebanyak 9 kali sekaligus mematahkan mitos bahwa PSN tidak bisa juara di tanah Flores. Oleh karena itu,.bagi keduanya head to head ini adalah pertarungan hidup mati karena menjadi juara bukan hanya sekedar sebuah prestasi tapi juga menyangkut prestise.
Di saat para bolamania Nagekeo mengharapkan bakal munculnya juara baru, PERSENA justru menampilkan performa yang mengecewakan. Babak pertama ritme dan kendali permainan sepenuhnya berada di tangan PSN NGADA. Ball-rolling yang mengalir dari kaki ke kaki serta tekanan beruntun melalui kedua sayap benar-benar mengacaukan lini pertahanan PERSENA sehingga terjadinya gol serasa tinggal menunggu waktu.
Dan itu terjadi pada menit ke 11.Sebuah penetrasi melalui sayap kiri PSN, through-pass akurat diterima Heron Ago yang tidak terkawal. Dua pemain dilewati dan dg sebuah tendangan kaki kiri yang sangat terukur bola bersarang di pojok kiri gawang yang tdak terjangkau penjaga gawang.
Organisasi pertahanan yang tidak terkoordinasi baik, sangat rentan terjadinya pelanggaran pada daerah rawan sebagaimana kejadian yang berujung pada tendangan bebas yang berbuah gol hasil tendangan spektakuler Hiron Liko.
Nampak jelas PERSENA masih berkutat dengan pola memainkan bola-bola panjang dari lini belakang langsung ke area pertahanan PSN, dengan Desmon sebagai target man. Sayangnya pola ini mudah terbaca dan karenanya daya dobrak Desmon yang explosive ditopang oleh fisik dan skill individu yang cukup mumpuni mampu dengan mudah diredam dan dilumpuhkan. Disiplin melakukan man- marking dan pressing yang ketat oleh kwartet lini belakang PSN Fandy Loke, Eus Dosi, Basten Du'e dan Hiron Liko membuat Desmon yg lagi2 berjuang single- fighter tidak berkutik.
Babak kedua memberikan harapan karena PERSENA justru bangkit. Bola-bola pendek dari kaki ke kaki nampak aktraktif, rapih,.dan akurat memecah konsentrasi dan membuat lini tengah dan belakang PSN pontang panting mengamankan keadaan. PERSENA mulai berani melakukan build-up dan mulai membangun serangan dengan bola-bola pendek yg membahayakan. Sayang sebuah permainan mempunyai durasi waktu tertentu sehingga keunggulan 2 gol PSN akhirnya berujung kemenangan saat peluit panjang berbunyi di ujung laga.
Secara keseluruhan PSN memang tampil perkasa dan matang mengembangkan permainan. Hal yang kurang justru tumpulnya lini depan karena ketiadaan striker eksplosive dengan naluri gol dan daya penetrasi yang mampu memporakporandakan sektor pertahanan lawan hal mana tercermin dari dua gol di babak pertama yang tetap bertahan hingga 45 menit babak kedua berakhir.
Dan, ketika pluit akhir dibunyikan, sorakan kegembiraan bergemuruh menggoyang stadion Marilonga. Histeria tifosi PSN tidak hanya terpancar dari teriakan dan loncatan kegembiraan di seantero stadion tapi tidak kurang dengan ekspresi berlinangan air mata tidak hanya di stadion tapi juga di rumah-rumah.
PSN akhirnya dengan perkasa tampil untuk ke 9 kalinya sebagai pemegang mahkota lambang supremasi sepak bola Flobamora El Tari Memorial Cup sekaligus mematahkan mitos karena ternyata mampu menjadi juara di pulau Flores.
Proficiat untuk PSN bersama head coach guru Cletus dan seluruh jajarannya.
Terimakasih Laskar Jaramasi.
Ever Onward Never Retreat.
Dewa Beka
Gregorius Patty Pelo

𝐋𝐮𝐚𝐫 𝐁𝐢𝐚𝐬𝐚, 𝐎𝐩𝐚. 𝐊𝐚𝐦𝐢 𝐣𝐮𝐠𝐚 𝐝𝐞𝐠-𝐝𝐞𝐠𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐚𝐭 𝐦𝐞𝐧𝐲𝐚𝐤𝐬𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐞𝐫𝐭𝐚𝐧𝐝𝐢𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐢𝐭𝐮 𝐰𝐚𝐥𝐚𝐮𝐩𝐮𝐧 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐥𝐞𝐰𝐚𝐭 𝐥𝐢𝐯𝐞 𝐬𝐭𝐫𝐞𝐚𝐦𝐢𝐧𝐠. 𝐈𝐧𝐭𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐍𝐠𝐚𝐝𝐚 𝐬𝐞𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐝𝐢𝐡𝐚𝐭𝐢, "𝐃𝐞𝐰𝐚 𝐁𝐞𝐤𝐚"
BalasHapus