Sepak Bola Penting, Tetapi Pendidikan Jauh Lebih Penting

 

(Catatan untuk Tim Citra Bakti Ngada)

Melalui akun Facebook (FB) keponakan saya Anto  Kumi Dopo (Antonius Dopo) saya menyimak dengan seksama sesi perkenalan para pemain Citra Bakti Ngada (CBN) dari salah satu tim ofisial kepada Ikatan Keluarga Ngada di Ende.

Citra Bakti Ngada (CBN) adalah salah satu klub dari Kabupaten Ngada yang akan berlaga pada perhelatan Liga 4 Zona NTT di Stadion Marilonga dimana pembukaannya akan dimulai pada Minggu (9/11) besok.

Fase perkenalan yang berlangsung selama lima belas menit dua puluh tiga detik itu menarik mengingat kontennya semacam Curriculum Vitae seorang pemain yang tidak hanya berhenti pada perjalanan karir seorang pesepakbola antar klub semata tetapi tentang status dan jenjang pendidikan yang sedang dicapai saat ini.

Aspek ini merupakan  pembeda atau nilai lebih dari klub Citra Bakti Ngada (CBN) jika disandingkan dengan peserta liga 4 zona NTT yang lainnya. Citra Bakti sebagai sebuah lembaga hadir untuk memberikan kepastian pada masyarakat bahwa ; Pertama, Pendidikan adalah entitas yang sangat fundamental untuk menjawab tantangan masa depan yang kompleks. Patut diakui bahwa pendidikan yang tinggi  membuka berbagai peluang dalam berbagai aspek kehidupan. Kendati mayoritas pemain dari jurusan Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) dan hanya satu pemain dari jurusan musik. Melalui Pendidikan formal yang baik, seorang pemain memaknai sepak bola sebagai media untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis, analitis, dan pemecahan masalah yang berguna di dalam dan di luar lapangan

Kedua, Pendidikan formal  memberi garansi dan kestabilan hidup jangka panjang. Mayoritas puncak karir seorang pesepak bola (professional) berada pada usia antara 30-35 tahun. Pasca umur tersebut  jika seorang pemain sepak bola tidak membekali diri dengan pendidikan yang baik, bisa saja ia akan mengalami kesulitan untuk menata kehidupan baru. Jika serius dalam Pendidikan formal,  kehidupan pasca usia 35 tahun tidak akan bergantung pada sepak bola dalam arti opsi karir lebih luas setelah pensiun jadi pemain sepak bola. Mereka memiliki pekerjaan profesional pada bidang yang mereka geluti selama menempuh pendidikan di kampus Citra Bakti.

Ketiga, sepak bola dan pendidikan membentuk karakter seorang atlet. Dunia pendidikan mewariskan tiga komponen, salah satunya adalah aspek afektif yang meliputi; disipilin, kerja keras, tanggung jawab, dan etika. Pengalaman selama berada di bangku kuliah sangat menolong seorang atlet untuk mengembangkan kematangan emosional dan kapasitas sosial melalui interaksi dengan beragam orang dan dalam berbagai situasi.

Sepak bola memang membuat tubuh menjadi sehat, namun pendidikan membuat cakrawala berpikir menjadi  luasdi masa depan. Tanpa pendidikan yang baik mungkin seorang pesepak bola hanya akan menjadi pemain hebat, namun melalui pendidikan yang memadai seorang pemain sepak bola menajdi manusia hebat dalam berbagai bidang.

Mojokerto, 8 November 2025

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

PSN Ngada Menuju Babak Delapan Besar

Catatan Sepak Bola Opa Gius untuk PSN dan CBN

Citra Bakti Ngada, Memutus Rantai Kegelisahan Antara Ijazah dan Sepatu Bola