Budaya sebagai Penuntun, Jalan sebagai Penyambung


Dalam dinamika politik modern, seringkali kita melihat jurang pemisah yang lebar antara elit pemerintahan dengan realitas masyarakat akar rumput. Namun, potret hangat mama saya, Ibu Paulina Bhoki, yang diapit oleh Bupati Ngada Raymundus Bena dan Wakil Bupati Bernadinus Dhey Ngebu di rumah adat Sa'o Gebhawea, memberikan perspektif yang menyegarkan. Momen saat acara Ka Sa'o di kampung Woeloma ini bukan sekadar aktivitas protokoler, melainkan sebuah pernyataan sikap tentang apa artinya menjadi pemimpin yang memanusiakan manusia di tanah Ngada.

Bagi saya, kehadiran beliau berdua adalah manifestasi nyata dari gaya kepemimpinan yang merangkul. Salah satu hal yang paling berkesan dari sosok Pak Raymundus dan Pak Bernadinus adalah gaya komunikasi mereka yang begitu luwes dan membumi. Mereka mampu menanggalkan topeng protokoler yang kaku, menggantinya dengan obrolan-obrolan hangat yang diselingi canda tawa segar saat berinteraksi dengan warga. Mereka tidak datang sebagai sosok yang harus disegani karena jabatan, tetapi sebagai saudara yang tahu kapan harus serius dan kapan harus mencairkan suasana.

Namun, di balik kehangatan interaksi tersebut, masyarakat tentu tetap menaruh harapan besar pada keberlanjutan pembangunan. Kita harus jujur mengakui bahwa saat ini, kondisi akses jalan dari Nenowea menuju Legeriwu hingga ke pantai selatan di Waebela masih dalam keadaan rusak parah.Kondisi ini tentu menjadi tantangan besar bagi mobilitas warga sehari-hari.

Kehadiran beliau di rumah adat kami memupuk optimisme bahwa komunikasi yang luwes ini menjadi pintu masuk untuk menuntaskan persoalan tersebut. Kami berharap, kedekatan emosional yang terjalin saat acara Ka Sa'o kemarin juga menjadi refleksi bagi beliau berdua untuk lebih memprioritaskan perbaikan infrastruktur di titik-titik tersebut. Jalan yang layak bukan hanya sekadar aspal, melainkan urat nadi yang akan menggerakkan ekonomi desa, mempermudah akses kesehatan, dan membawa harapan baru bagi warga di pesisir selatan.

Kepemimpinan yang kami harapkan adalah perpaduan yang konsisten antara sisi humanis yang ramah dalam berkomunikasi, dengan keberanian eksekusi untuk menjawab realitas lapangan. Kami percaya bahwa pemimpin yang mampu tertawa bersama rakyatnya di rumah adat, pasti juga akan tergerak hatinya untuk segera turun tangan memperbaiki jalan-jalan yang rusak demi kesejahteraan warganya.

Melihat mereka duduk berdampingan dalam balutan busana adat, saya melihat upaya sadar untuk memelihara kedekatan emosional. Inilah potret pemimpin yang mengerti bahwa legitimasi tertinggi diraih melalui ketulusan hadir, keramahan dalam berkomunikasi, dan komitmen nyata untuk menjawab kebutuhan mendesak rakyatnya. 

Semoga tantangan infrastruktur di jalur Nenowea ke Legeriwu hingga Waebela segera mendapat perhatian serius, agar senyum kebersamaan di rumah adat ini berbanding lurus dengan kemajuan yang dirasakan masyarakat di seluruh pelosok Ngada.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

PSN Ngada Menuju Babak Delapan Besar

Catatan Sepak Bola Opa Gius untuk PSN dan CBN

Citra Bakti Ngada, Memutus Rantai Kegelisahan Antara Ijazah dan Sepatu Bola