Menyeimbangkan Kapasitas Intelektual dan Ketahanan Spiritual
Senin (25/5) siang, tepat pukul 12.00, sebuah ajakan yang tak lazim datang dari putra saya, Diego Lina. "Pak, mari kita berdoa Rosario lima peristiwa gembira," ajaknya tenang. Sebagai seorang ayah, saya segera bertanya perihal ujud doa tersebut. Dengan nada yang mantap namun penuh kerendahan hati, ia menjawab, "Agar saya bisa lulus SNBT."
Di era yang serba cepat ini, dunia pendidikan kita sering kali terjebak dalam obsesi angka. Peringkat, nilai ujian, dan statistik kelulusan kerap dijadikan satu-satunya tolok ukur keberhasilan. Namun, di balik keberhasilan Diego menembus ketatnya Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026 di Program Studi PJKR, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Surabaya (Unesa), saya menemukan pelajaran yang jauh lebih mendalam yakni kesuksesan sejati adalah titik temu antara disiplin intelektual dan keteguhan iman.
Bagi Diego, persiapan menuju bangku kuliah bukan sekadar ritual musiman. Ia memahami bahwa kompetisi membutuhkan strategi. Selama masa bimbingan belajar di Ganesha Operationangka berbicara dengan jujur tentang dedikasinya. Dari target 12.000 soal, ia melampauinya dengan menyelesaikan 14.858 butir soal dengan tingkat ketepatan 73,6%.
Namun, bukan jumlah soal yang membuat saya bangga. Adalah fakta bahwa ia harus berhadapan dengan hampir 4.000 jawaban salah yang menjadi kunci. Alih-alih menyerah pada kesalahan, ia menjadikan setiap kegagalan sebagai data untuk perbaikan. Inilah resiliensi karakter pembelajar sejati yang menjadi fondasi bagi kaum muda untuk bertahan di tengah kerasnya persaingan zaman.
Poin paling krusial dari perjalanan ini bukanlah apa yang tertulis di atas kertas ujian. Di tengah tekanan psikologis yang menguras energi, Diego memilih jalan yang bagi sebagian orang mungkin dianggap "klasik" atau tidak relevan di zaman digital yaitu mengikuti Ekaristi harian, Novena, dan doa Rosario.
Ajakan berdoa Rosario lima peristiwa gembira di tengah ketegangan menanti hasil ujian adalah bukti nyata bahwa doa bukanlah pelarian dari tanggung jawab. Bagi Diego, doa justru menjadi jangkar yang menstabilkan emosi. Ia menyadari sepenuhnya bahwa setelah mengerahkan seluruh kapasitas intelektualnya, ada ruang privat di mana manusia harus menyerahkan segala hasilnya kepada kehendak Tuhan.
Kisah ini menjadi antitesis terhadap narasi yang menyebutkan bahwa generasi muda saat ini telah kehilangan akar spiritualitasnya. Diego membuktikan bahwa seseorang bisa menjadi sangat kompetitif secara akademik dan fisik, tanpa harus menanggalkan kedalaman batinnya.
Kehadiran Diego di PJKR FIK Unesa kini membawa harapan baru. Ia tidak hanya akan dibekali dengan kemampuan pedagogi dan fisik yang kuat, tetapi juga disiplin diri yang teruji. Sebagai orang tua, saya diingatkan kembali bahwa pendidikan tidak boleh berhenti pada aspek kognitif semata.
Pendidikan yang ideal adalah upaya membentuk manusia utuh yang cerdas otaknya, terampil tangannya, namun tetap rendah hati di hadapan Sang Pencipta. Masa depan tidak dibangun oleh mereka yang sekadar pintar, tetapi oleh mereka yang berani mengombinasikan kerja keras yang gigih dengan kerendahan hati yang tulus.
Untuk anak-anak yang sedang berjuang, teruslah belajar seolah tidak ada hari esok. Namun, dalam setiap langkahnya, berdoalah seolah seluruh masa depan Anda sepenuhnya bergantung pada rahmat-Nya. Sebab, di titik itulah, prestasi tidak hanya menjadi pencapaian duniawi, melainkan sebuah persembahan.


Komentar
Posting Komentar